Duta Besar palestina Untuk Indonesia, Feris Mehdawi mengungkapkan
rasa syukurnya atas dukungan yang besar dari rakyat Indonesia untuk
rakyat Palestina. Berbagai bantuan telah diterima rakyat di sana, dan
itu merupakan perwujudan dari sebuah persaudaraan yang terjalin kendati
wilayahnya cukup jauhnn antara Indonesia dan Palestina. "Saya
mengapresiasi dukungan rakyat, Pemerintah dan parlemen Indonesia yang
sejak lama telah memikirkan nasib bangsa kami," tegasnya saat memberi
sambutan saat pembukaan Konferensi Internasional Untuk Pembebasan Al
Quds dan Palestina yang diselenggarakan Aqsha Woprking Group di Bandung.
Pada kesempatan itu Feris Mehdawi mengatakan jika penjajahan yang
dilakukan oleh Israel terhadap negaranya merupoakan bentuk perampasan
hak-hak negara palestina. Kendati kondisi rakyatd an negara Palestina
telah hancur dalam berbagais endiri, tetapi rakyat Palestina tidak akan
berhenti berjuang melawan Israel. "Kami akan terus tegar dan itu hanya
soal waktu saja., sebab kemenangan akan diperoleh oleh kami lewat
perjuangan selama ini," urainya optimis.
Maka bentuk dukungan untuk mengisolir Israel adalah pantas dilakukan
oleh negara-negara yang anti Israel. Masih katanya, Indonesia adalah
negara yang cukup penting dalam hal ini. Maka dari itu penyelenggaraan
konferensi ini di Bandung merupakan bentuk atau simbol perlawanan
terhadap imperialisme. "Saya katakan KAA 1955 berhasil menorehkan tinta
sejarah di mana negara di Asia Afrika merdeka kecuali yang belum adalah
Palestina dan berkat dukungand ari semua, isnya Allah palestina pun akan
merdeka," pungkasnya.
News & Hot
Teraktual & Tercepat bagaikan Garuda
Jumlah
Senin, 16 Juli 2012
Messi Diwajibkan Kembali ke Klub Argentina
Lionel Messi memulai karirnya di sepakbola bersama klub Argentina Newell's Old Boys. Dan menurut Presiden Newell's, Messi seharusnya kembali ke klub lamanya itu suatu saat nanti.
Messi adalah anggota akademi Newell's pada periode 1995 sampai sekitar tahun 2000an sebelum akhirnya pindah ke Barcelona FC. Messi sendiri selama ini selalu mengatakan bahwa dirinya berniat mengakhiri karirnya di Barca.
Presiden Newell's Guillermo Llorente berharap agar peraih tiga Ballon d'Or itu suatu saat kembali membela Newell's. "Kami bisa melihat Messi bermain dan berharap suatu saat dia akan kembali," ucap Llorente kepada situs resmi Liga BBVA.
"Messi masih sangat muda, tapi kami tetap berharap dia akan kembali suatu hari nanti. Dia bisa saja pensiun atau bermain di sini. Dia harus melakukannya. Itu adalah sebuah kewajiban baginya."
Tapi bagi Llorente, ikon Newell's sesungguhnya tetaplah Marcelo Bielsa. Bielsa adalah pelatih yang membawa Newell's menjuarai satu gelar Primera Division dan satu gelar Clausura.
"Jika Newell's harus punya idola, maka Marcelo Bielsa orangnya. Jika anda berbicara tentang Bielsa, maka anda juga bicara tentang Newell's. Demikian juga sebaliknya."
"Dia sangat terkenal di sini. Suatu saat, Bielsa juga harus kembali. Untuk Bielsa, pintu Newell's selalu terbuka saat dia ingin kembali," pungkasnya.
Pilpres 2014 Tak Ada Lagi Pertarungan Ideologi Partai
JAKARTA - Banyak pihak yang menilai bahwa pada
pemilihan presiden 2014 mendatang akan banyak bermunculan tokoh-tokoh
baru, tak terkecuali dari kalangan pemuda. Namun, menurut Wakil Ketua
MPR, Hajriyanto Tohari, pilpres mendatang akan muncul pertarungan antar
figur, bukan pertarungan antara ideologi suatu partai.

"Memang benar tidak ada pertarungan ideologi dalam Pilpres 2014. Dari nama-nama yang muncul ke permukaan memang susah untuk membedakan warna ideologi mereka masing-masing," kata dia saat dihubungi wartawan, Senin (16/07/2012).
Hajriyanto membandingkan sistem Pilpres di Indonesia dengan Amerika. Di Amerika, calon yang maju sebagai presiden memiliki ideologi jelas. Mana yang konservatif, mana yang liberal. Meskipun ada kecenderungan semuanya ke tengah, tetapi tetap kelihatan jelas mana yang kanan tengah atau mana yang kiri tengah.
"Sementara di Indonesia babar pisan, tidak ada bedanya. Secara ideologis mereka sama, yaitu ideologi ingin berkuasa menjadi presiden, itu saja. Sementara program-programnya hanyalah aksesoris belaka," tegasnya.
Dalam Pilpres, sambung Hajriyanto, jangankan pertarungan ideologi, bahkan paradigma partai politik pengusungnya saja seringkali tidak tercermin dalam figur pasangan capres dan cawapresnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa partai yang berbasis Islam yang mengusung figur yang bukan berasal dari partai berbasis Islam, misalnya dari partai nasionalis.
"Dalam satu hal kecenderungan ini positif karena menunjukkan tuntasnya Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa. Tetapi dari aspek lain ada negatifnya, yaitu terjebak dalam ideologi pragmatisme yang kering nilai dan cita-cita luhur. Akhirnya perpolitikan nasional terjebak dalam pragmatisme materialistis," paparnya.
Untuk itu, banyak kalangan yang berharap agar masing-masing parpaol melakukan regenerasi. Namun menurut Hajriyanto, regenerasi yang dilakukan selama ini tidak murni berlandaskan keinginan untuk menciptakan pemimpin baru yang bisa merubah arah masa depan bangsa. Namun hanya berdasarkan pada kekecewaan terhadap politisi tua.
"Karena kejenuhan atau bahkan kekesalan kepada yang tua maka muncullah gelombang tuntutan regenerasi. Tetapi generasi baru yang seperti apa mereka juga tidak tahu. Pokoknya yang penting ada regenerasi karena kecewa pada yang tua-tua," tandasnya.
"Memang benar tidak ada pertarungan ideologi dalam Pilpres 2014. Dari nama-nama yang muncul ke permukaan memang susah untuk membedakan warna ideologi mereka masing-masing," kata dia saat dihubungi wartawan, Senin (16/07/2012).
Hajriyanto membandingkan sistem Pilpres di Indonesia dengan Amerika. Di Amerika, calon yang maju sebagai presiden memiliki ideologi jelas. Mana yang konservatif, mana yang liberal. Meskipun ada kecenderungan semuanya ke tengah, tetapi tetap kelihatan jelas mana yang kanan tengah atau mana yang kiri tengah.
"Sementara di Indonesia babar pisan, tidak ada bedanya. Secara ideologis mereka sama, yaitu ideologi ingin berkuasa menjadi presiden, itu saja. Sementara program-programnya hanyalah aksesoris belaka," tegasnya.
Dalam Pilpres, sambung Hajriyanto, jangankan pertarungan ideologi, bahkan paradigma partai politik pengusungnya saja seringkali tidak tercermin dalam figur pasangan capres dan cawapresnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa partai yang berbasis Islam yang mengusung figur yang bukan berasal dari partai berbasis Islam, misalnya dari partai nasionalis.
"Dalam satu hal kecenderungan ini positif karena menunjukkan tuntasnya Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa. Tetapi dari aspek lain ada negatifnya, yaitu terjebak dalam ideologi pragmatisme yang kering nilai dan cita-cita luhur. Akhirnya perpolitikan nasional terjebak dalam pragmatisme materialistis," paparnya.
Untuk itu, banyak kalangan yang berharap agar masing-masing parpaol melakukan regenerasi. Namun menurut Hajriyanto, regenerasi yang dilakukan selama ini tidak murni berlandaskan keinginan untuk menciptakan pemimpin baru yang bisa merubah arah masa depan bangsa. Namun hanya berdasarkan pada kekecewaan terhadap politisi tua.
"Karena kejenuhan atau bahkan kekesalan kepada yang tua maka muncullah gelombang tuntutan regenerasi. Tetapi generasi baru yang seperti apa mereka juga tidak tahu. Pokoknya yang penting ada regenerasi karena kecewa pada yang tua-tua," tandasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)